blog-img
09/09/2021

Ngaji Tetap Di Rumah Di Masa Pandemi PPKM Level 4

Akhmad Nur Majid | Kemuhammadiyahan

#NGaji_tetap_di_rumah
Q.S. Thaha [20]: 95-96



Ayat 95: Berkata Musa: Apa yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?.

  1. M? khathbuka; Ini merupakan struktur bahasa yang biasa digunakan al-Quran untuk mempertanyakan tentang latar belakang, motivasi, alur cerita (tetapi berkaitan dengan peristiwa yang besar dan penting), sebagaimana yang disebutkan di Q.S. Yusuf [12]: 51, dan Q.S. Qashash [28]: 23.
  2. Tahw?l al-khith?b: Nabi Musa merubah arah pembicaraa dari Harun ke Samiri:
  1. Klarifikasi dalam segala hal merupakan sebuah keniscayaan sebagaimana yang dilakukan oleh Musa kepada Harun, tetapi jangan merubah status klarifikasi dan investasi menjadi konflik internal
  2. Klarifikasi dilakukan untuk menemukan akar permasalahan bukan utuk saling menyalahkan
  3. Klarifikasi juga perlu dilakukan kepada yang dinaggap sebagai sumber masalah, bukan lanmgsung menjatuhkan hukuman.

Ayat 96: Samiri menjawab: Aku melihat sesuatu yang mereka tidak melihatnya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.

  1. Pertanyaan nabi Musa pada ayat 95 di atas, dalam rangka memberikan hak berbicara kepada Samiri.
  2. Bashurtu bim? lam yubshir?: ini pengakuan Samiri: Saya melihat apa yang tidak mereka lihat.
  1. Samiri mengakui dirinya memiliki keunggulan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain: mampu melihat malaikat jibril menunggang kuda ketika Musa dan bani israil akan menyeberangi lautan yang sudah “membuka” jalannya.
  2. Dalam konteks menjelaskan makna bashurtu bima lan yubshiru ini, secara tidak langsung sebagian Mufassir  juga mengakui maqam Samiri dalam hal  mampu melihat Jibril dan mengetahui karakternya.
  • Yang menafsirkan bashurtu dengan melihat (ra’a-yara), mengatakan bahwa Samiri melihat dengan mata.
  • Yang menafsirkan bashurtu dengan mengetahui (ya`lamu), mengatakan bahwa Samiri mengetahui bahwa tanah bekas telapak kudanya Jibril mempunyai sifat mampu menghidupkan, karena ketika dalam asuhan Jibril Samiri memperhatikan bahwa bekas telapak kaki kuda yang ditunggangi Jibril berubah menjadi hijau dan menghadirkan kehidupan.
  • Kok bisa? Ya, secara ringkas dapat dikatakan bahwa ketika anak-anak laki-laki dibuang oleh keluarganya untuk memghindari pembunuhan dari Firaun, pada hari yang sama ada dua bayi, satu Musa dirawat oleh keluarga kerajaan, dan satu lagi Samiri dirawat oleh Jibril, jadi sejak kecil Samiri sudah mengenal karakternya (lihat di Razi, Mafatihul Ghaib).
  1. Terlepas dari benar dan tidak pengakuan Samiri tersebut, fenomena ini banyak dilihat dalam konteks kekinian: banyak yang mengaku wali dengan perilaku dan ungkapan yang sulit dicerna dengan akal, banyak yang mengaku mengetahui masa depan (paranormal, dukun), beberapa orang yang mengaku sebagai nabi, bahkan ada mengaku mendapat wahyu dari Jibril juga ada…(ternyata sanadnya dari Samiri: sama-sama mengatakan, saya mengetahui apa yang tidak mengetahui)
  2. Sisi lain dari makna bashurtu bima lam yubshiru adalah bahwa Samiri mengetahui dengan sebenarnya bahwa asal usul anak sapi yang disembah, itu merupakan pemyelewengan yang direkayasa sedangkan bani Israil yang terpengaruh hanya mengikuti tanpa mengetahui latar belakang dan tujuan Samiri.
  1. Patung anak sapi yang mengeluarkan suara merupakan sebuah rekayasa sebagaimana yang sudah dibahas pada ayat-ayat terdahulu, agar terkesan meyakinkan maka Samiri melemparnya dengan segenggam tanah yang diakui dari bekas jejak kudanya Jibril dan diyakini mampu menghidupkan benda mati.
  2. Samiri selalu berobsesi memiliki pengaruh bagi bani Israil; ide merekayasa tuhan buatan ketika Musa tidak berada di tengah-tengah mereka  inilah yang anggap paling mampu menarik simpati bani Israil.
  3. Orang yang terobsesi menjadi pemimpin dengan pengaruh dan  kekuasaan mutlak selalu berusaha dengan segala cara melakukan rekayasa ekstrim, meskipun melanggar ajaran dan aturan yang kebenarannya bersifat absolut.
  4. Orang awam yang tidak berilmu rawan untuk dijadikan sasaran pembohongan dan kebohongan, baik oleh politisi ataupun agamawan.

#5 September 2021
#M. Rifqi Rosyidi

Bagikan Ke: